TESIS, ANTI-TESIS, SINTESIS
Atik Rodiawati, S.Pd
17709251025
PPS Pendidikan Matematika 2017
Tulisan
ini adalah refleksi dari perkuliahan Filsafat Ilmu pertemuan ketiga pada
tanggal 5 Oktober 2017 di ruang I.02.4.01.02 bersama Prof. Dr. Marsigit, M.A.
Pada perkuliahan kali ini sama seperti perkuliahan pertemuan kedua, Pak
Marsigit memberikan dua puluh lima pertanyaan filsafat kepada mahasiswa.
Pertanyaan
pertama yang diajukan dari Pak Marsigit ialah “Berapa umurmu?”. Jawabannya
adalah ada tak terhingga jumlah umur. Saat SD umurku 6 tahun, saat SMP umurku
13 tahun, saat SMA umurku 17 tahun, saat ini umurku 25 tahun 9 bulan 20 hari 2
jam 1 menit 35 detik dan saat aku menuliskan tulisan ini maka jumlah umurku
yang mampu untuk disebutkan ada empat. Bayangkan berapa banyak jumlah umurku
dari aku lahir ke dunia sampai maenghadap sang Illahi nantinya, tak berhingga
bukan. Pertanyaan kedua ialah “Umurmu darimana?”. Jawabannya adalah dari nol,
sehingga umur manusia adalah dari nol hingga tak berhingga. Pertanyaan ketiga
ialah “Kemana umurmu?”. Jawabannya adalah menuju ke infinitif, artinya umur
manusia menuju ke tak terhingga umur. Pertanyaan keempat adalah “Mengapa
umurmu?”. Jawabannya adalah infinit regress, artinya berkelanjutan secara
terus-menerus. Pertanyaan kelima adalah “Kamu menulis apa?”. Jawabannya adalah
saya menulis bayangan, yakni bayangan pikiranku. Pertanyaan keenam adalah “Kamu
mendengar apa?”. Jawabannya adalah tesis, karena semua yang Tuhan ciptakan
adalah thesis. Pertanyaan ketujuh adalah “Kamu melihat apa?”. Jawabannya adalah
tesis.
Pertanyaan
kedelapan adalah “Kamu memikirkan apa?”. Jawabannya adalah anti-tesis.
Pertanyaan kesembilan adalah “Kamu berbicara dengan siapa?”. Jawabannya adalah
anti-tesis. Pertanyaan kesepuluh adalah “Kenapa kamu sedih?”. Jawabannya adalah
anti-tesis. Pertanyaan kesebelas adalah “Kenapa kamu menangis?”. Jawabannya
adalah anti-tesis. Pertanyaan keduabelas adalah “Kamu sedang mengerjakan apa?”.
Jawabannya adalah sintesis, sintesis ini adalah hasil pertemuan dari tesis dan
anti-tesis. Pertanyaan ketigabelas adalah “Pikiranmu ada dimana?”. Jawabannya
adalah di atas kesadaran. Pertanyaan keempatbelas adalah “Kamu merasakan apa?”.
Jawabannya adalah intuisi. Pertanyaan kelimabelas adalah “Jiwamu ada dimana?”.
Jawabannya adalah di nomena, yaitu semua yang tidak dapat dirasakan oleh panca
indera. Lawan dari nomena ini adalah
fenomena, yaitu semua yang dapat dirasakan oleh panca indera. Pertanyaan
keenambelas adalah “Cita-citamu ada dimana?”. Jawabannya adalah di prinsip.
Pertanyaan
ketujuhbelas adalah “Apa buktinya?”. Jawabannya adalah segala buktinya ialah
identitas. Karena identitas ini bersifat konsisten. Sifat prinsip hanya ada dua
yaitu identitas dan kontradiksi. Logika bersifat identitas sedangkan kenyataan
bersifat kontradiksi. Identitas adalah area langit ke atas sampai spiritual,
sedangkan kontradiksi adalah area bumi. Pertanyaan kedelapanbelas adalah
“Ilmumu ada dimana?”. Jawabannya adalah di dalam kontradiksi. Sebenar-benar
ilmu adalah ada kontradiksi, dan sebenar-benar ilmu adalah penalaran. Sehingga
menurut Filsafat bahwa Matematika bukanlah ilmu karena Matematika bersifat
identitas. Pertanyaan kesembilanbelas adalah “Sekarang jam berapa?”. Jawabannya
adalah jam berjalan karena manusia di bumi terikat ruang dan waktu. Pertanyaan
keduapuluh adalah “Kamu mimpi apa?”. Jawabannya adalah refleksi. Refleksi dari kehidupan
itu terpantul-pantul dan terjadilah mimpi. Pertanyaan keduapuluh satu adalah
“Kenapa Engkau diam?”. Jawabannya adalah Ekuilibrium. Sebenar-benar hidup
adalah diam dalam bergerak dan bergerak dalam diam. Pertanyaan keduapuluh dua
adalah “Kenapa engkau bicara?”. Jawabannya adalah karena ini rumahku.
Sebenar-benar rumahku adalah bahasa. Pertanyaan keduapuluh tiga adalah “Kenapa
Engkau menulis?”. Jawabannya adalah anti-tesis. Pertanyaan keduapuluh empat
adalah “Kenapa engkau terlambat?”. Jawabannya adalah mitos karena sebenar-benar
tidak ada istilah terlambat. Pertanyaan keduapuluh lima adalah “Kenapa engkau
marah?”. Jawabannya adalah karena determin.
Pertanyaan
selanjutnya diajukan oleh Widuri yaitu “Bagaimana cara menghilangkan rasa
cemas?”. Begini jawaban Bapak Marsigit. Sebenar-benar rasa cemas di dalam hati
adala godaan setan. Tiadalah yang mampu membantu kita untuk menghadapi rasa
cemas kecuali Tuhan. Maka, mintalah pertolongan Allah dengan berdoa. Jika kita
bergaul dengan orang lain maka kehidupan kita adalah akibat dari pergaulan
kita. Sehingga kita harus senantiasa berhati-hati dalam pergaulan. Hermenetika adalah hubungan
manusia dengan manusia, misalnya berhubungan dengan tetangga maka kita harus
mengalah dan bersabar.
Pertanyaan
selanjutnya ditanyakan oleh Wisniarti yaitu “Kenapa manusia yang selalu
melakukan dosa, kemampuan berpikirnya cenderung berkurang?”. Berikut jawaban
Pak Marsigit. Berpikir dapat benar dan dapat salah, perasaan dapat baik dan
dapat buruk. Bisa saja pikiran benar tetapi estetikanya salah, pikiran salah
tetapi estetikanya benar. Baik dan benar pikiran tergantung ruang dan waktu.
Jika seseorang selalu melakukan hal buruk secara psikologi, maka dia akan
menanggung beban secara psikologis yang berakibat pada berkurangnya kemampuan
berpikir.
Pertanyaan
selanjutnya ditanyakan oleh Charina yaitu “Bagaimana cara mengatasi ego yang
tinggi dalam diri kita?”. Seperti inilah jawaban Pak Marsigit. Beliau
memulainya dengan menyebutkan contoh penembak di Las Vegas, Stephen Paddock,
yang menembak 59 orang karena di Amerika hukum membawa senjata bagi warganya
adalah legal. Sesungguhnya Stephen memberikan sifat pewaris kepada generasi
selanjutnya untuk memiliki dorongan membunuh lebih dari 59 orang. Hal ini
menunjukkan lemahnya birokrat dikuasai oleh kaum kapitalis, oleh karena negara
dikuasai oleh para kapital maka kepala negara sekalipun tidak mampu untuk
melarang senjata. Hal ini berkaitan dengan ego para rakyat Amerika untuk
proteksi diri. Pikiran dalam masing-masing mereka adalah saya berusaha untuk
menembak terlebih dahulu karena jika tidak maka saya yang akan tertembak.
Pertanyaan mengenai ego diberikan kembali oleh Bulan “Isis mengakui bahwa
Stephen Paddock adalah salah satu anggota mereka. Apakah Isis ini juga termasuk
meggunakan ego mereka?”. Berikut jawaban Pak Marsigit. Isis merupakan
organisasi yang memiliki tujuan atau motif sehingga disebut propaganda.
Setinggi-tinggi ilmu kalah dengan niat dan sebenar-benar tujuan adalah tujuan
spiritual. Bapak juga menyampaikan bahwa Filsafat dapat dibagi menjadi tiga
yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ontologi adalah hakekat dan
hakekat adalah metafisik. Metafisik ini bersifat terus-menerus dan tidak akan
pernah habis yang disebut infinit regress.
Selanjutnya
pertanyaan dari Devi, “Jodoh kita yang menentukan Allah atau kita sendiri?”.
Jawabannya adalah sudah ada ketentuan dari Allah, hanya saja Allah memberikan
kesempatan kepada kita untuk berikhtiar. Jadi, takdir itu diperoleh dari
ikhtiar manusia.
Komentar
Posting Komentar